CINTA PERTAMA
By;Syukur
Pagi yang cerah, mentari bersinar di ufuk timur, embun yang beterbangan kemudian membasahi dedaunan sebelum jatuh ke tanah. Aktifitas masyarakat kota pun mulai berjalan. Teman-teman di asrama kini telah bersiap-siap.
Muhammad Yusuf, ya..... Itu namaku. Seorang anak remaja yang kerap dipanggil Yusuf oleh teman-teman. Aku bersyukur karena kedua orang tuaku memberiku nama Yusuf, nama yang begitu indah. Aku sekarang duduk di bangku kelas 10 c. MA. Maklumlah... Aku duduk di kelas 'c', sesuai dengan kemampuan otak yang kumiliki. Aku punya prinsip, ''Biarkanlah semua mengalir seperti air''. Hingga kini, dalam usiaku yang ke-16 tahun. Aku tidak pernah lagi merasakan yang namanya cinta.
Cinta pertamaku berawal ketika aku masuk MTS. Saat itu aku melaksanakan MOS (Masa Orientasi Siswa) dan saat itu aku punya banyak teman termasuk teman wanita. Salah satunya bernama Aisyah. Dia adalah tipe wanita yang cengeng. Aku kerap bertengkar dengannya,dan aku juga pernah membuat dia nangis karena kata-kataku yang kasar. Akibatnya, aku sering merasa takut melihat air matanya mengalir di wajah cantiknya. Entah apa masalahku dengannya hingga aku sering bertengkar dengannya. Mungkin kami punya banyak perbedaan yang saat itu belum bisa kami terima satu sama lain.
Satu tahun berlalu. Akhirnya, tibalah saat yang dinanti-nantikan . Yaitu saat penaikan kelas. Kami pun beranjak naik ke kelas dua. satu hal yang mengejutkan buat aku. Aku kalah dengannya. ''Masa aku kalah dengan cewe sih?'' ucapku dalam hati. Apa boleh buat, kenyataannya aku memang kalah dengannya. Saat itulah mulai timbul rasa kagum aku padanya. Meskipun dia adalah seorang wanita yang cengeng. Dia juga termasuk wanita yang cerdas dan pintar. Begitu sempurna dia.
Hari demi hari perselisihan diantara aku dengan dia mulai berkurang. Sifat kedewasaan mulai timbul di benak kami berdua.
Suatu ketika, aku merasakan suatu perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Bayangannya tiap saat menghampiri fikiranku. Aku sering termenung dan kadang juga aku tidak tau apa sebenarnya yang aku pikirkan.
''Ya Tuhan... Inikah yang namanya jatuh cinta?'' tanyaku dalam hati. Ya, aku jatuh cinta sama dia. ''Tapi, apa tidak salah aku jatuh cinta sama orang yang sangat aku benci selama ini?'' Entah apa yang aku rasakan saat itu. Suatu hal yang sulit bagiku mengungkapkan rasa itu padanya. Apalagi rasa maluku kepada sahabat dan teman-temanku. Tapi itulah kenyataannya. Aku jatuh cinta sama dia, Aisyah.
Hari itupun berlalu diiringi kegelisahan yang menggerogoti fikiranku. Matahari kembali terbit di ufuk timur. Seragamku kini telah siap. Sebagaiman biasanya, Aku tinggal minta kunci motor butut kesayanganku sama papaku. Kucium tangan mama & papaku. Kuambil motorku lalu berangkat ke sekolah. Sepuluh menit berlalu, aku sampai di sekolah. Ku menghela nafas dan melangkah berjalan masuk ke kelas,ku duduk di atas kursiku sambil menunggu saat keluar main. Tak ada pelajaran yang mampu diterima oleh otak kecilku ini dikarenakan otakku telah penuh rasa cemas,takut bercampur dengan rasa pemasaran.
''Ting...ting..ting..!'' bel pun berbunyi. Itu tandanya tibalah saat istirahat. Semua teman-temanku berjalan meninggalkan kelas menuju kantin. Tinggal aku dan Aisyah di dalam kelas. Dengan perasaan deg-degan, aku melangkahkan kakiku mendekatinya. Aku letakkan sepucuk surat diatas mejanya. Tanpa sepatah kata aku pun beranjak pergi meninggalkan dia sendiri di dalam kelas.
Di dalam surat itu aku menuliskan rasa maafku dan perasaan yang aku pendam selama ini.
Hari itu, hingga malam aku terus terpikirkan apa jawaban Aisyah nantinya. Aku takut jika dia semakin marah denganku.
Hari itu berlalu degan iringan matahari menuju tempat tenggelamnya. Pada keesokan harinya. Tiba saat yang aku nanti-nantikan. Aisyah pun juga membalas suratku. Dengan segenggam harapan,ku buka surat itu. Didalam-nya Aisya mangatakan bahwa ia juga merasakan hal yang sama. Dan ia juga memaafkan aku. Aku tidak pernah menyangka bahwa hatinya begitu lembut,hingga ia mau memaafkanku dan menerima aku sebagai seoraeg yang mengaguminya.
Hari demi hari kami jalani hubungan itu dengan sebaik-baiknya. Meskipun kadang ada perselisihan diantara kami. Tapi kami berusaha menyelesaikan masalah itu dengan rasa saling pengertian.
Setahun berlalu hubungan kami. Tiba saat-saat aku harus serius belajar dan harus siap menghadapi ujian Nasional. Dan,saat itu juga hubungan kami berangsur-angsur memburuk yang dikarenakan ikut campur sahabat-sahabatnya yang tak pernah mengerti dengan keadaanku saat itu. Hingga pada akhirnya hubungan kami landas ditengah jalan. Aisyah kecewa denganku. Karena memang, aku sempat mengata-ngatai dia dengan kata-kata kasar. Aku juga menyesal saat itu. Aku menyesal karena aku tidak kuat menahan rasa egoku. Dan mau tidak mau, kami berpisah di MTS. Tak ada kata perpisahan diantara kami. Dia melanjutkan sekolahnya di SMK Keperawatan. Aku pun memutuskan untuk mencoba menjauh darinya dan melanjutkan sekolahku di kota Sengkang ini. Yang memang sejak dulu menjadi cita-citaku. Ada penyesalan yang sangat mendalam yang aku rasakan,Aisyah tidak mau memaafkan aku. Hingga aku hidup dalam keterpurukan selama Delapan Bulan tanpa senyum dan motivasi darinya.
Delapan bulan akhirnya berlalu. HP-ku yang ku letakkan diatas lemari berdering. Yang menandakan ada SMS masuk. Aku bergegas melihat SMS itu. Tak jelas siapa pengirimnya. Hanya ada nomor Xl yang tertera. Ternyata, itu adalah SMS dari Aisyah. Sahabatku Fatimah, yang selama ini menjadi tempat aku menanyakan kabar Aisyah, kini mempertemukan aku dengan Aisyah. Aku berusaha menyatakan rasa penyesalanku telah menyakitinya. Aku minta maaf padanya. Dan dengan hati yang terbuka Aisyah mau memaafkan aku. Namun,entah kenapa Aisyah sepertinya telah berubah. Rasa pengertiannya kini telah hilang. Semua yang aku lakukan dia anggap salah. Mungkin, Aisyah tidak memaafkan aku dengan tulus.
Hingga hari ini, aku memutuskan untuk melupakan dia. Aku akan membuang jauh-jauh rasa cintaku padanya. Meskipun sungguh sulit dan sangat sakit rasanya. Aku ingin bangun dari keterpuruka tanpa dia.
Kenangan tinggallah kenangan. Yang lalu kan ku biarkan berlalu. Kisah cintaku dengannya cukup sampai disini. Selamat tinggal cinta pertamaku.
''Good bye my first love''
By: Syukur
''Mohon kritik & saran dari para pembaca.''
Terima kasih.

0 Komentar