Aliran Empirisme dalam
Pendidikan menurut Perspektif Al-Qur’an
A.
Teks Ayat dan Terjemahannya (Qs. An-Nahl: 78)
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& w cqßJn=÷ès? $\«øx© @yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur öNä3ª=yès9 crãä3ô±s? ÇÐÑÈ
“dan Allah
mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun,
dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
B.
Tafsir
1.
Jalalain
والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا
تعلمون شيئا» الجملة حال «وجعل لكم السمع» بمعنى الأسماع «والأبصار والأفئدة»
القلوب «لعلكم تشكرونـ» ـه على ذلك فتؤمنون
2.
Al-Maraghy
Allah telah memberikan
kepada kita beberapa macam anugrah setelah kita dilahirkan dari perut ibu,
sehingga menjadikan kita tahu hal-hal yang sebelumnya tidak kita ketahui, di
antaranya adalah :
1.
Akal, alat untuk memahami
sesuatu, sehingga kita dapat membedakan antara hal yang baik dan yang buruk
benar dan salah, dll.
2.
Pendengaran, alat untuk mendengar
suara, sehingga dapat memahami percakapan satu sama lain
3.
Penglihatan, alat untuk melihat
segala sesuatu, sehingga saling mengenal di antara kamu
4.
Perangkat hidup yang lain, sehingga dapat
mengetahui jalan untuk mencari rizki dan materi lain yang dibutuhkan,
serta dapat memilih yang baik dan meninggalkan yang jelek.
3.
Al-Misbah
Dalam tafsir al-Mishbah, Prof. Quraish Shihab menjelaskan
keterkaitan Ayat ini dengan pendidikan dengan beberapa kesimpulan;
a.
Ayat tersebut menggunakan kata (السمع) “pendengaran”
dengan bentuk tunggal dan menempatkannya sebelum kata ( الابصار) “penglihatan-penglihatan”
yang berbentuk jamak, serta (الافئدة) “aneka hati” yang juga berbentuk
jamak, bentuk mufrodnya adalah (فؤاد). Kata ini dipahami oleh ulama dalam arti akal.
Makna ini dapat diterima jika yang dimaksud dengannya adalah gabungan daya
pikir dan daya kalbu, yang menjadikan seseorang terikat sehingga tidak
terjerumus kedalam kesalahan dan
kedurhakaan. Dengan demikian, tercakup dalam pengertian potensi meraih ilham
dan percikan Ilahi.
b.
Didahulukannya kata pendengaran atas
penglihatan sesuai dengan hasil
pembuktian dalm ilmu kedokteran moderen bahwa indra pendengaran berfungsi
mendahului indra penglihatan. Ia mulai
tumbuh ketika pekan pertama umur seorang bayi. Sedangkan, indra penglihatan
bermula pada bulan ketiga dan mulai sempurna pada awal bulan keenam. Adapun
kemampuan akal dan mata hati yang berfungsi membedakan baik dan buruk, ini
berfungsi jauh sesudah kedua indra tersebut. Dengan demikian, dapat dikatan bahwa
perurutan penyebutan indra-indra pada ayat tersebut mencerminkan tahap
perkembangan fungsi indra-indra tersebut.
c.
Ayat tersebut menunjuk kepada
alat-alat pokok yang digunakan guna meraih pengetahuan. Yang alat poko pada
objek yang bersifat material adalah mata dan telinga, sedaang pada objek
immaterial adalah akal dan hati.
d.
Firman-Nya: $\«øx© cqßJn=÷ès? w “tidak
mngetahui sesuatupun” dijadikan oleh para pakar sebagai bukti bahwa manusia lahir tanpa
pengetahuan sedikitpun. Manusia, kata mereka bagai kertas putih
yang belumdibubuhi satu huruf pun.
Pendapat ini benar jika yang dimaksud adalah pengetahuan kasbiy, yakni
pengetahuan yang diperoleh secara manusiawi.
C.
Kesimpulan
Aliran
empirisme adalah aliran yang mengganggap bahwa manusia dalam didalam hidup dan
perkembangan pribadinya semata mata ditentukan oleh dunia luar.
Aliran naturalism adalah aliran yang berpandangan bahwa manusia dalam
hidupnya ditentukan oleh alam.
Seperti pada
ayat (QS.an-nahl:78)
Menurut Dr. Moh Fadhli al-Djamali, firman Allah diatas menjadi petunjuk
bahwa kita harus melakukan usaha pendidikan aspek eksternal (pengaruh dari luar
diri anak itu). Dan dengan kemampuan yang ada dalam diri anak didik yang
menumbuhkan dan mengembangkan keterbukaan diri terhadap pengaruh eksternal
(dari luar) yang bersumber dari fitrah itulah maka pendidikan secra
operasiaonal adalah bersifat hidayah (menunjukkan). Dalam QS.al-alaq:3-4
ù&tø%$#
ÉOó$$Î/
y7În/u
Ï%©!$#
t,n=y{
ÇÊÈ t,n=y{
z`»|¡SM}$#
ô`ÏB
@,n=tã
ÇËÈ ù&tø%$#
y7/uur
ãPtø.F{$#
ÇÌÈ Ï%©!$#
zO¯=tæ
ÉOn=s)ø9$$Î/
ÇÍÈ
“1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.”
Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa manusia tanpa melalui belajar,
niscaya tidak akan mengetahui segala sesuatu yang ia butuhkan bagi kelengsungan
hidupnya di dunia dan akhirat. Pengetahuan manusia akan berkembang jika
diperoleh melelui proses belajar mengajar yang diawali oleh kemampuan menulis
dengan pena dan membaca dalam arti luas, yaitu tidak hanya dengan membaca
tulisan melainkan dengan membaca segala yang tersirat di dalam ciptaan allah.
Pengaruh dari luar diri manusia terhadap
fitrah yang memiliki kecenderungan untuk berubah sejalan dengan pengaruh
tersebut dapat disimpulkan dari interpretasi atas kata fitrah yang disebut
dalam sabda nabi SAW riwayat abu hurairah sebagai berikut :
4.
ما المولود
الاّ يولد على الفطرط فا بواه يهودانه اوينصّرانه (رواه ابوهريره)
Artinya: “tidaklah anak dilahirkan kecuali
dilahirkan atas dasar
fitrah. Maka kedua orang tuanya mendidiknya yahudi atau nasrani. (HR.Abu
Hurairah)
Berdasarkan hadits diatas, maka kita
mendapat petunjuk bahwa fitrah sebagai faktor pembawaan sejak lahir manusia
dapat dipengaruhi oleh lingkungan luar dirinya. Ia tak akan dapat
berkembanganya sama sekali bila tanpa adanya pengaruh lingkungan itu sendiri
juga dapat diubah bila tidak favorable (tidak menyenangkan karena tidak sesuai
dengan cita-cita manusia).
Dari interpretasi tentang fitrah tersebut, bahwa
fitrah dapat dipengaruhi oleh lingkungan, namun kondisi fitrah tersebut
tidaklah netral terhadap pengaruh dari luar. Potensi yang terkandung didalamnya
secara dinamis mengadakan reaksi atas responsi (jawaban) terhadap pengaruh
tersebut. Dengan istilah lain, dalam proses perkembangan, terjadilah interaksi
(saling mempengaruhi) antara fitrah dan lingkungan sekitar, sampai akhir hayat
manusia.

0 Komentar