"Ciptakanlah bahagia di dalam dirimu sebelum menciptakan bahagia untuk orang lain, sebab kebahagiaan akan lebih bermakna ketika orang yang kita bahagiakan melihat kita bahagia"
####
"Thank you sir".
Ucapku sambil menggapai tangan Dosen, lalu menciumnya, tanda penghormatan dan terimakasihku kepada beliau.
"You're welcome". Jawabnya sambil tersenyum, sebuah senyum yang menghangatkan hati, membuatku seakan melupakan segala penat setelah belajar mata kuliah bahasa inggris.
Aku beranjak dari tempat itu, memberikan kesempatan kepada teman-teman mahasiswa yang lain.
Kulangkahkan kakiku keluar dari ruangan itu, menuju tangga, ku ikuti setiap anak tangga hingga sampai ke dasar.
Tak jauh disitu, sudah ada sahabatku, Abdul Jawwad. Memang dia lebih awal keluar dari ruangan.

Ku lihat langit, disana ada awan yang terlihat pucat seperti menahan air hujan yang sebentar lagi ditumpahkannya.
Jam di HPku menunjukkan pukul 17.30.
Aku bergegas naik ke motor, Abdul Jawwad pun menancap gas, mengejar waktu agar cepat sampai ke asrama berharap tidak kehujanan.
Namun, ternyata perkiraanku tidak tepat, ditengah perjalanan ternyata awan lebih dahulu menumpahkan isinya. Tetes demi tetes tumpah di pakaianku, dan Semakin deras. Membuat sahabatku bertanya sambil teriak di atas motor, "Syukur, Mau lanjut atau kita singgah dulu?"
Mendengar Pertanyaannya aku berfikir beberapa detik, lalu langsung ku jawab dengan teriakan pula "Lanjut aja, kita dah terlanjur basah kan, lagian bentar lagi juga sampai".
"Okee.." Jawabnya singkat.
Kemudian, Langsung ia tancap gas. Hingga akhirnya sampai di Asrama.
Hari yang begitu melelahkan, Balik dari kampus sambil basah kuyup karena kehujanan.
-Goresan Pena Sang Musafir-